Sabtu, 13 Agustus 2011

Home » » Pendekatan Materi dan Pembelajaran IPS

Pendekatan Materi dan Pembelajaran IPS

A. Pengertian Pendekatan
Pendekatan adalah cara memandang sesuatu berdasarkan teori, rumus, dalil atau kultur. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.
B. Jenis-jenis Pendekatan dalam IPS
1. Pendekatan Penyajian Materi IPS dalam Kurikulum
Pendekatan penyajian materi IPS dalm kurikulum terdiri dari 6 macam pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan Integrated
Pada pendekatan integrated, materi IPS disajikan secara terpadu sehingga tidak tampak lagi warna atau ciri-ciri khas disiplin ilmu-ilmu sosial yang mendukungnya (seperti ekonomi, geografi, antropologi, psikologi, sosiologi dan sejarah) melainkan menjadi satu kesatuan konsep dalam suatu topik atau pokok bahasan yang sedang diajarkan oleh seorang guru di dalam kelas.
b. Pendekatan Flug – In
Pendekatan kurikulum flug-in merupakan salah satu pendekatan yang seolah-olah terpadu (terintegrasi) namun dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas masih terpisah, hanya payung mata pelajaran yang sama yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial. Pendekatan flug-in boleh dikatakan suatu mata pelajaran yang terdiri dari berbagai materi namun dalam pelaksanaan pembelajaran tetap terpisah.
c. Pendekatan Spiral
Kurikulum yang disusun dengan menggunakan pendekatan spiral adalah materi yang dituangkan dalam kurikulum tersebut dimulai dari lingkungan yang dekat dan lebih sempit menuju kepada lingkungan yang lebih jauh dan luas serta makin lama makin mendalam sehingga materi pelajaran yang telah diberikan guru kepada siswa benar-benar menjadi milik siswa dan tahan lama dalam benak anak, karena adanya pengulangan materi dan memiliki kaitan yang logis antara materi pelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang disajikan. Pendekatan kurikulum seperti ini sangat mementingkan apresiasi sebelum pembelajaran dimulai, yaitu mengaitkan yang lalu dengan materi yang akan diberikan.
d. Pendekatan Expanding Community Approach (ECA)
Pendekatan ECA merupakan pendekatan kurikulum IPS di mana pengorganisasian materi pelajaran menggunakan pendekatan kemasyarakatan yagn meluas, yakni dimulai dari hal-hal yang lebih jauh (global). Sepintas kelihatan sama dengan pendekatan spiral, namun berbeda konsep dan pelaksanaannya. Pada ECA ini tidak tampak adanya pengulangan materi sebelum masuk ke materi selanjutnya.
e. Pendekatan Flash – Back
Pendekatan kurikulum ini digunakan dalam pelajaran sejarah, di mana penyajian materinya dimulai dari masa sekarang (saat kini) menuju kepada masa yang jauh terdahulu (mundur ke belakang). Saat ini pendekatan Flash – Back tidak digunakan lagi, yang digunakan adalah pendekatan periodisasi yang maju ke depan.
f. Pendekatan Periodisasi
Periodisasi berasal dari kata periode yang berarti tonggak atau masa tertentu. Pendekatan ini juga berlaku untuk pelajaran sejarah, di mana penyajian materi sejarah dalam kurikulum dimulai dari masa kini menuju kepada masa lalu berdasarkan periode-periode atau tonggak-tonggak sejarah tertentu, sehingga setiap periode sejarah diuraikan secara tuntas, baru masuk ke periode yang lain (sesudah).
2. Pendekatan Pembelajaran IPS dalam KBM
Pendekatan pembelajaran IPS yang dilakukan guru di dalam kelas terdiri dari dua macam pendekatan, yaitu:

a. Pendekatan Pembelajaran Tradisional
Pendekatan tradisional adalah sebuah pendekatan pembelajaran di mana guru di dalam kelas menggunakan metode mengajar yang relatif tetap (monoton) setiap kali mengajar IPS. Guru terkesan lebih aktif daripada siswa. Gurulah yang memegang peranan penting dalam pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini kurang menggunakan alat atau media yang memadai sehingga hasil belajar siswa kurang luas dan mendalam, malahan cenderung verbalistis.
Ciri-ciri pendekatan pembelajaran tradisional adalah sebagai berikut:
1. Guru cenderung hanya menyampaikan informasi yang bersifat fakta dan kurang memberikan permasalahan dalam proses pembelajaran.
2. Interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa lebih bersifat satu arah (hanya dari guru kepada siswa).
3. Dalam proses pembelajaran guru kerap memberikan indoktrinasi kepada siswa juga kurang memberikan kesempatan berpikir kritis dan kreatif.
4. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih cenderung bersifat kognitif (pengetahuan) saja, kurang memberikan materi yang bersifat afektif dan psikomotor.
5. Stategi, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan guru cenderung bersifat tunggal dan monoton.
6. Dalam pembelajaran kurang menampakkan kadar CBSA yang tinggi.
7. Penilaian lebih banyak menggunakan teknik tes, baik tertulis maupun lisan, kurang menggunakan tes perbuatan (perilaku).
b. Pendekatan Inkuiri dan Discoveri
Pendekatan inkuiri dan discoveri merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang baru sebagai hasil belajar. Inkuiri dan discoveri merupakan dua pendekatan yang satu sama lain tak dapat dipisahkan. Pendekatan ini akan memberikan suasana dan iklim belajar yang lebih aktif kepada para siswa. Proses pembelajaran lebih didominasi oleh aktivitas siswa. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator saja. Pendekatan ini lebih berpusat kepada siswa (student centris).
Pendekatan inkuiri dan discoveri memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dalam proses pembelajaran, guru lebih banyak memberikan permasalahan kepada siswa untuk dianalisa dan kemudian mencari beberapa alternatif pemecahannya.
2. Interaksi dan komunikasi yang terjadi antara guru dan siswa lebih bersifat multi arah (guru-siswa, siswa-guru, siswa-siswa).
3. Dalam proses pembelajaran, guru lebih banyak memberi kesempatan siswa untuk aktif berfikir secara kritis dan ilmiah.
4. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran yang bersifat fakta melainkan juga menanam sikap dan melatih keterampilan praktis kepada siswa.
5. Strategi, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan lebih variatif (tidak monoton).
6. Dalam pembelajaran lebih cenderung memperlihatkan kadar CBSA yang tinggi.
Inkuiri memberi makna yang cukup tinggi bagi siswa. Siswa merasa dihargai eksistensinya sebagai manusia yang sedang belajar. Siswa akan merasa percaya diri apabila berhasil mengungkapkan dan menemukan sesuatu dalam belajar.

Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Sagalanyampak